Ruko Niaga Mas Blok B1 No.06 - Batam
(+62)811-771-881
joni.jovindo@gmail.com

Pisah Harta dengan Suami WNA: Bolehkah Istri Menggunakan Status K/1?

Diunggah pada Sabtu, 28 Maret 2026 pukul 09.00 WIB

PT Jovindo Solusi Batam merupakan perusahaan konsultan pajak yang menyediakan layanan jasa konsultan pajak, pembukuan, dan jasa pembukuan serta jasa manajemen kepada klien. Kali ini PT Jovindo Solusi Batam akan memaparkan informasi pisah harta dengan suami WNA: bolehkah istri menggunakan status K/1?

Dalam kondisi tertentu, status perpajakan bagi pasangan suami istri bisa berbeda dari status hukum pernikahannya. Hal ini juga berlaku bagi istri yang menikah dengan Warga Negara Asing (WNA), khususnya jika terdapat perjanjian pisah harta.

Lalu, apakah dalam kondisi tersebut istri masih bisa menggunakan status K/1?

Ketentuan Status Pajak bagi Istri

Dalam perpajakan Indonesia, pada dasarnya:

  • Istri dapat memiliki kewajiban pajak sendiri

  • Terutama jika terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan pelaporan tidak digabung dengan suami

Pengaruh Suami WNA dalam Perpajakan

Jika suami merupakan WNA, maka perlakuan pajaknya menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini, kewajiban perpajakan istri tidak selalu mengikuti atau digabung dengan suami.

Perjanjian Pisah Harta

Adanya perjanjian pisah harta menyebabkan:

  • Tidak adanya penggabungan penghasilan antara suami dan istri

  • Istri menjalankan kewajiban perpajakannya secara sendiri

Apakah Bisa Menggunakan Status K/1?

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, dalam kondisi:

  • Suami adalah WNA

  • Terdapat perjanjian pisah harta

Maka istri tidak dapat menggunakan status K/1 dalam pelaporan SPT Tahunan.

Kesimpulan

Status K/1 mencerminkan kondisi wajib pajak yang sudah kawin dengan satu tanggungan, di mana penghasilan suami dan istri digabungkan. Namun, jika terdapat perjanjian pisah harta dan suami merupakan WNA, maka istri wajib melaporkan pajaknya secara mandiri dan tidak dapat menggunakan status K/1. Penting bagi setiap wajib pajak untuk memahami ketentuan ini agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaporan SPT Tahunan.